Tolak Peluru: Pengertian, Sejarah, Teknik, Aturan dan Manfaat

Tolak Peluru

Tolak peluru merupakan salah satu nomor dalam cabang olahraga atletik yang begitu populer di Indonesia. Terutama pelajar. Cara kerja olahraga tolak peluru adalah dengan melontarkan peluru sekuat tenaga menggunakan satu lengan untuk mendapatkan jarak sejauh-jauhnya. Olahraga tolak peluru dapat diikuti oleh pria dan wanita.

Sama seperti nomor lain di cabang olahraga atletik, tolak peluru juga dikompetisikan dalam perlombaan skala internasional. Misalnya, SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade. Peluru yang digunakan dalam olahraga ini terbuat dari besi dan kuningan. Dalam kompetisi profesional, berat peluru yang digunakan adalah 7,26 kilogram (pria) dan 4 kilogram (wanita).

Namun, berat peluru dalam olahraga ini dapat disesuaikan. Misalnya, dalam gelaran SAC Indonesia, berat peluru yang digunakan adalah 5 kilogram (pria) dan 4 kilogram (wanita). Penyesuaian ini dilakukan mengingat syarat peserta perlombaan SAC Indonesia berasal dari pelajar yang belum mendapatkan pelatihan profesional.

Dalam kompetisi besar, seorang atlet biasanya akan memiliki kesempatan enam kali percobaan per kompetisi. Di kejuaraan besar, format perlombaan dibagi menjadi dua. yakni sesi kualifikasi yang diikuti dengan babak final. Jika menemui hasil seri, pemenangnya adalah atlet dengan prestasi terbaik berikutnya. Untuk mendalami olahraga tolak peluru, seseorang membutuhkan kekuatan, kecepatan hingga keseimbangan.

Di Indonesia, tolak peluru juga masuk dalam kompetisi atletik tingkat pelajar hingga profesional. Mulai dari Kejuaraan Nasional, Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Ada banyak atlet tolak peluru Indonesia yang telah mendunia. Misalnya, di kategori wanita ada Eki Febri Ekawati. Sementara di kategori pria ada Irfan Toni Saputro.

Tolak peluru adalah salah satu dari empat nomor lempar tradisional dalam cabang olahraga atletik. Keberadaannya beriringan dengan peradaban manusia. Sama seperti nomor lari, tolak peluru dimulai dari peradaban Yunani Kuno.

Sejarah Tolak Peluru
Menurut laman resmi Olympics, orang-orang Yunani Kuno melakukan aktivitas melempar batu sebagai olahraga. Kemudian, tentara kerajaan di Abad Pertengahan juga melempar bola meriam untuk melatih fisik. Namun, versi modern dari olahraga ini baru ditemukan dalam catatan sejarah untuk Highland Games di Skotlandia.

Selama abad ke-19, Highland Games menyediakan kompetisi melempar kubus, batu atau logam dari belakang garis. Kompetisi ini biasanya diikuti oleh pria. Dalam publikasi Scotland.org menyebutkan bahwa, tolak peluru adalah olahraga paling difavoritkan oleh semua orang untuk kompetisi Highland Games.

Olahraga tolak peluru kategori putra telah ada sejak Olimpiade modern pertama digelar pada 1896. Namun, tolak peluru kategori wanita baru tersedia dalam Olimpiade mulai 1948. Menurut riwayat, Amerika Serikat adalah negara pemilik prestasi tolak peluru paling sukses dalam sejarah Olimpiade dan meraih emas di setiap kompetisi tolak peluru pria dari tahun 1896 hingga 1968.

Kebutuhan Kompetisi Tolak Peluru
Menurut publikasi berjudul Athletics Omnibus – Shot Put karya Richard Stander, CEO Athletics South Africa (ASA), tolak peluru memiliki beberapa kebutuhan kompetisi yang harus diperhatikan. Mulai dari peralatan hingga area tolakan. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap perolehan prestasi atlet.

1. Peluru harus terbuat dari besi padat, kuningan atau logam apa pun yang tak lebih lunak dari kuningan. Cangkang dari logam tersebut diisi dengan timah atau bahan logam lain. Peluru wajib berbentuk bola dan permukaannya harus halus. Berat peluru dapat bervariasi sesuai dengan usia atau gender atlet.

2. Diameter dalam lingkaran area tolakan harus 2.135 meter. Bagian luar lingkaran harus terbuat dari besi, baja atau bahan lain yang sesuai. Sementara bagian atas lingkaran harus rata dengan tanah di luar area. Bagian dalam lingkaran dapat dibangun dari beton, aspal atau bahan lain yang kokoh tetapi tidak licin.  Permukaan area tolak peluru harus rata dan harus 20 milimeter lebih rendah dari tepi luar tepi lingkaran.

3. Papan batas antara lingkaran dan area lemparan (stop board) harus terbuat dari kayu atau bahan lain yang sesuai. Stop board menyerupai bentuk busur dan harus dipasang dengan kuat ke tanah. Panjangnya 1,22 meter, lebar 114 milimeter dan tinggi 100 milimeter.

4. Area pendaratan peluru biasanya berbentuk segitiga terbalik. Area ini dibentuk oleh garis yang ditarik dari pusat lingkaran dan melewati ujung stop board. Penarikan garis dari pusat lingkaran dapat membentuk sudut 34,92 derajat. Dengan garis sektor 5 centimeter.

Cara Meletakkan Peluru
1. Atlet tolak peluru dapat menggunakan beberapa teknik memegang peluru. Tentunya setiap atlet memiliki caranya sendiri. Atlet harus meletakkan peluru tepat pada telapak tangan, ujung telapak tangan atau ruas-ruas jari.

2. Lalu, angkat peluru ke atas dan letakkan pada pangkal dagu atau rahang bawah dengan posisi agak turun ke depan bahu. Dalam waktu ini, atlet biasanya mencari momen yang pas sebagai awalan sebelum melakukan gaya untuk melempar.

3. Kemudian, atlet harus memastikan bahwa sudut siku tak lebih dari 90 derajat atau tepat pada 45 derajat. Sementara posisi badan biasanya membentuk sudut 120 derajat. Atlet juga harus memperhatikan durasi waktu di area. Durasi waktu peserta sejak namanya dipanggil hingga selesai melakukan lontaran peluru adalah 60 detik.

Gaya dalam Tolak Peluru 

– Gaya Spin
Aleksandr Baryshnikov adalah atlet tolak peluru pertama dari Rusia yang menggunakan teknik spin. Rupanya, teknik tersebut ditemukan oleh pelatihnya Viktor Alekseyev yang kemudian ia gunakan. Gaya Spin menjadi gaya dominan yang digunakan oleh atlet tolak peluru papan atas dalam Olimpiade.

Gaya spin membutuhkan latihan dan keterampilan tajam. Untuk menggunakan gaya spin, seorang atlet harus berputar 360 derajat sebelum menolak peluru. Hal tersebut adalah alasan mengapa gaya ini disebut sebagai “Spin.” Perputaran atlet tentunya berpengaruh terhadap prestasi jarak yang diperoleh. Sehingga, atlet harus fokus ketika menggunakan gaya ini.

– Gaya O’brien
Gaya O’brien atau O’brien Glide merupakan teknik menolak peluru yang judi bola ditemukan oleh atlet asal Amerika Serikat bernama Parry O’brien. Tepatnya pada tahun 1951. Untuk memulai gaya O’brien, pertama-tama, atlet harus menghadap ke belakang sasaran, dimulai dengan posisi membungkuk.

Kemudian, gerakan dilanjutkan dengan menendangkan kaki depan ke depan lingkaran, sedangkan kaki lainnya mengikuti gerakan. Ketika kaki depan menendang, atlet wajib memutar badan 180 derajat ke arah depan sekaligus mendorong peluru ke area sasaran.

– Gaya Ortodoks
Tolak peluru juga memiliki gaya yang pas bagi pemula. Disebut sebagai gaya ortodoks, gaya ini lebih membutuhkan sedikit gerakan dibandingkan gaya O’brien dan spin. Atlet hanya perlu memposisikan tubuh menyamping dari area lingkaran. Setelah posisi peluru di bagian pangkal leher dirasa pas, para atlet bisa langsung melepaskan peluru ke area sasaran.

Aturan Dasar Tolak Peluru
Tolak peluru juga memiliki aturan dasar umum yang sering menimbulkan kebingungan. Misalnya, kapan atlet harus melakukan lontarkan peluru atau bagian mana saja dari area lingkaran tolak peluru yang dilarang terkena kaki. Berikut adalah beberapa aturan dasar dari tolak peluru.

1. Seorang Atlet Dapat Memasuki Lingkaran dari Segala Arah
Atlet dapat memasuki lingkaran tolak peluru dari segala arah. Ini termasuk melangkahi stop board yang berada di depan lingkaran. Namun, setelah selesai menyelesaikan tolakan, atlet harus keluar dari bagian belakang lingkaran.

2. Peluru Harus Diletakkan dari Dekat Ke Leher Atau Dagu
Aturan dalam World Athletics menyebutkan bahwa,  “Pada saat seorang atlet mengambil sikap dalam lingkaran untuk memulai, peluru harus berada di dekat leher atau dagu dan tangan tak boleh jatuh ke bawah selama posisi ini. Kemudian, lemparan tidak boleh dilakukan di belakang garis bahu.”

3. Tolakan peluru Harus Diselesaikan dari Dalam Lingkaran
Menolak peluru harus dimulai dan diakhiri dari dalam lingkaran. Seorang atlet perlu memulai aksinya dari posisi diam di dalam lingkaran. Posisi diam berarti setelah memasuki lingkaran dan sebelum memulai tolakan, atlet harus dalam posisi berdiri di mana kedua kaki bersentuhan dengan permukaan lingkaran.

Kedua, setelah mereka masuk ke dalam lingkaran dan mulai melakukan aksi, atlet tidak boleh menyentuh tanah di luar lingkaran. Setelah menyelesaikan tolak peluru, sentuhan pertama atlet dengan tanah di luar lingkaran harus berada di luar setengah bagian belakang lingkaran.

4. Atlet Tak Boleh Menyentuh Bagian Atas Stop Board
Lingkaran tolak peluru memiliki bagian bernama stop board atau toe board di bagian depan. Bagian atas stop board, dianggap berada di luar lingkaran. Menyentuh bagian atasnya dengan cara apapun selama aksi menolak peluru dapat terkena pelanggaran.

5. Peluru Harus Mendarat Sepenuhnya di Dalam Sektor
Peluru yang mendarat di luar salah satu garis sektor dapat disebut sebagai pelanggaran. Pendaratan peluru di garis sektor dianggap “keluar” dan tak dapat diukur. Berbeda dengan cabang olahraga lain di mana bola yang mendarat di garis dianggap “masuk.”

Pendaratan peluru ditentukan oleh tempat peluru pertama kali menyentuh tanah. Jika mendarat seluruhnya di dalam sektor, namun peluru kemudian berguling di luar sektor, hasil peluru masih dapat dihitung. Jarak yang dihitung untuk hasil akhir tolak peluru adalah area lingkaran tempat peserta melakukan lontaran hingga tempat pendaratan peluru.

6. Wajib Menunggu Peluru Mendarat Sempurna
Atlet dilarang meninggalkan area lingkaran sebelum peluru mendarat ke tanah. Peserta baru diperbolehkan meninggalkan lingkaran ketika peluru dianggap jatuh tepat di area yang ditentukan.

Manfaat Tolak Peluru
Tolak peluru merupakan salah satu nomor tolak peluru dengan melakukan tolakan bola logam berat sejauh mungkin. Olahraga ini membutuhkan kombinasi kekuatan, tenaga, dan teknik, Berikut adalah beberapa manfaat kesehatan dari peluru:

1. Bagus untuk Kardiovaskular
Tolak peluru membutuhkan banyak tenaga, yang dapat membantu meningkatkan kebugaran dan daya tahan kardiovaskular. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan latihan rutin yang langsung melibatkan peluru.

2. Meningkatkan Kekuatan Tubuh
Melakukan tolak dengan bola peluru yang berat tentunya membutuhkan banyak kekuatan tubuh bagian atas dan bawah, serta stabilitas inti. Latihan tolak peluru secara teratur dapat membantu meningkatkan kekuatan otot secara keseluruhan.

3. Meningkatkan Koordinasi dan Keseimbangan
Melakukan lontaran peluru membutuhkan koordinasi dan keseimbangan yang tepat, yang dapat membantu meningkatkan kontrol dan stabilitas tubuh secara keseluruhan.

4. Mengurangi Stres
Tolak peluru adalah olahraga berat yang membutuhkan fokus dan konsentrasi. Sehingga dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi stres.

5. Membantu Penurunan Berat Badan
Seperti semua olahraga lainnya, tolak peluru membutuhkan banyak energi dan dapat membakar kalori, sehingga mampu membantu penurunan berat badan.

Baca Juga : https://pikiranindonesia.com/mengenal-lari-estafet-pengertian-sejarah-teknik-dasar-dan-peraturan/

Anda mungkin juga suka...